Kesadaran publik dan kepedulian pada warisan budaya selama ini terstereotipekan dengan “memuja” benda-benda tersebut di etalase museum. Kepedulian yang paling hakiki adalah jika warisan budaya tersebut memiliki kemanfaatan dan nilai dalam pemanfaatan tersebut.

Akan berbeda dengan konteks benda yang menjadi koleksi nasional atau bahkan koleksi pribadi. Warisan budaya dalam wujud kebendaan tidak harus mengalami dikotomi sebagai cagar budaya. Cagar budaya adalah sebuah status hukum atas sebuah benda.
Publik (baca dalam makna luas) baik ekosistem governance, awam, industri komersil maupun non komersil, segmentasi entitas termasuk individu-individu aktor akan terus saling membangun kontestasi pemahaman, relasi ko-relasi pengetahuan dan juga dominasi dan resistensi pemahaman. Namun yang pasti, pemahaman atas warisan budaya dalam konteks kebendaan maupun non bendawi tidak akan mandheg. Pemahaman ini terus akan bergerak sesuai dengan relevansi perkembangan global.
Dalam gambar header dan footer situs ini, dikutip dari koleksi BnF Gallica, dengan deskripsi pada halaman tentang gambar tersebut, ada beberapa hal menarik terkait apa yang diduga sebagai “Jung” atau “Inchi” atau dalam bahasa bebas kapal Nusantara yang sedang berada di samudra Hindia dan laut Arab. Inkripsi pada gambar peta, sebagai berikut :

Bagian dari atlas Catalan yang menggambarkan sebuah kapal jung Jawa bertiang lima (jong Jawa) di Laut Arab, 1375 dengan inkripsi bagian atas sebagai berikut; “Sapiats que aquestes naus són appellades Nichi e han ·LX· coldes de carena e hobren ·XXX·IIII· coldes e menys han encara de ·IIII· arbres fins en ·X· e les [lurs] veles són de canes e palma” dengan terjemahan bebas; [Ketahuilah bahwa kapal-kapal ini disebut “inchi” dan memiliki lambung sepanjang enam puluh hasta dengan tiga puluh empat hasta freeboard. Di atasnya terdapat antara empat dan sepuluh tiang, dan layarnya terbuat dari rotan dan palem] Note : Inchi adalah kesalahan penyalinan dari jũchi, atau jung, dari bahasa Jawa jong
sedangkan inkripis dibagian bawah masih dari sumber yang sama; “En la mar Indich en la
qual son peschades les perles ay illes molt ri ques mas los peschadors abans que devallen à la mar dien ses encanta cions per lesquals los pexes molt fu gen e si per aventura los pescadors devalaven pescare que no aguessen dites les lurs encantacions los pexos los menjarien E aço es molt provada cosa” dengan terjemahan bebas sebagai berikut; [Di Laut India tempat mutiara dipancing terdapat pulau-pulau yang sangat kaya. Para nelayan sebelum turun ke laut membuat mantra yang membuat ikan-ikan lari, dan jika kebetulan nelayan turun sebelum membuat mantra, ikan-ikan akan memakannya, itu adalah hal yang sangat terbukti]

